Kasus TBC di Indonesia Tertinggi Kedua di Dunia

Dinda Marley - 13 Januari 2021 00:18 WIB
Kasus TBC di Indonesia tertinggi kedua di dunia (sumber: Handout)

JAKARTA – Berdasarkan laporan badan kesehatan dunia (WHO), di 2020, Indonesia merupakan negara dengan beban tuberkulosis (TBC) tertinggi kedua setelah India dengan estimasi kasus 845.000 di 2019. Untuk kasus TBC Resistan Obat (TBC RO), Indonesia merupakan satu dari sepuluh negara yang berkontribusi terhadap 77 persen kesenjangan global dengan estimasi kasus sebanyak 24.000.

Dari jumlah tersebut, hanya 11.463 (48 persen) yang terkonfirmasi sebagai kasus TBC RO dan hanya 48 persen pasien TBC RO yang memulai pengobatan TBC lini kedua. Selain rendahnya cakupan angka pasien yang memulai pengobatan, cakupan angka keberhasilan pengobatan juga masih rendah yaitu 45 persen atau 2.997 pasien TBC RO yang melakukan pengobatan TB lini kedua di 2017 dan dinyatakan sembuh.

Rendahnya angka pasien yang melakukan pengobatan dan capaian angka keberhasilan pengobatan TBC RO, berpotensi meningkatkan penularan, menimbulkan resistansi pengobatan yang lebih kompleks dan meningkatkan angka kematian.

Dalam rangka mendukung pencapaian Strategi Nasional Pengendalian Tuberkulosis di Indonesia, Yayasan KNCV Indonesia (YKI) melalui dukungan pendanaan dari USAID akan mengimplementasikan proyek Mandiri-TB (Mobilisasi Jejaring untuk Kemandirian Melawan TBC) di empat kota, yaitu Medan, Jakarta Utara, Surabaya dan Makassar.

Proyek ini bertujuan memperkuat kapasitas organisasi masyarakat sipil dan organisasi pasien dalam melakukan advokasi sehingga pendampingan pasien TBC RO yang dilakukan komunitas dapat dilakukan secara mandiri, baik oleh pendanaan pemerintah (APBD) maupun swasta (CSR dan filantropi).

Juga untuk memperkuat kapasitas organisasi masyarakat sipil dan pasien melakukan konseling perubahan perilaku dalam pendampingan pasien TBC RO, diharapkan dapat berkontribusi mewujudkan pelayanan TB berkualitas dan berpusat pada pasien.

‘’Implementasinya, proyek ini akan melakukan dua strategi utama yaitu pendekatan multi sektoral untuk meningkatkan komitmen pemda dan sektor swasta terkait anggaran kegiatan TBC dan meningkatkan akses layanan TBC RO yang berkualitas dan berpusat pada komunitas,” kata Direktur Yayasan KNCV Indonesia, dr Jhon Sugiharto dalam keterangan persnya, Jumat (8/1/2021).

Proyek ini nantinya berkontribusi dalam pemberdayaan jejaring pemangku kepentingan menuju eliminasi TBC di Indonesia. Pemangku kepentingan yang dimaksud adalah pemerintah daerah, penyedia layanan kesehatan, organisasi masyarakat, sektor swasta dan komunitas sebagai sektor kunci juga mitra strategis dalam pelaksanaannya.

Mandiri-TB akan diimplementasikan hingga September 2022. Proyek ini menargetkan 100 persen pasien di wilayah intervensi dapat memulai pengobatan dan >80 persen pasien di wilayah intervensi dapat menyelesaikan pengobatan.

‘’Eliminasi TBC menjadi tanggung jawab semua pihak, bahkan lintas sektor di luar sektor kesehatan serta komunitas. Peran komunitas sangat penting, sejalan dengan strategi penanggulangan TBC Nasional 2020-2024 , terutama dalam mendukung upaya diagnosis dan pengobatan untuk mencapai peningkatan angka keberhasilan pengobatan,” kata dr Siti Nadia Tarmizi, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung dalam sambutannya saat membuka
acara Kick Off Mandiri-TB pada Kamis (7/1/2021).

Program ini diharapkan dapat berkontribusi dalam peningkatan akses pendanaan pasien, baik yang bersumber dari pemerintah lokal maupun korporat melalui mekanisme Corporate Social Responsibility (CSR). Selain itu, memfasilitasi organisasi masyarakat lokal dan organisasi pasien sebagai mitra implementasi untuk memberikan dukungan psikososial yang berkualitas dan sesuai kebutuhan pasien TBC RO.

Bagikan

RELATED NEWS