Siap-siap "Go Public" di 2022

Me1 - Minggu, 26 Desember 2021 12:36 WIB
BEI memiliki pencapaian yang cukup membanggakan di 2021 (HO)

HalloMedan.co – Bursa Efek Indonesia (BEI) memiliki pencapaian yang cukup membanggakan di 2021. Sampai 20 Desember 2021, terdapat 53 perusahaan yang mencatatkan sahamnya di BEI. Pencapaian ini kembali menjadikan BEI sebagai bursa yang paling aktif di kawasan ASEAN dalam hal pencatatan perusahaan. Total Perusahaan Tercatat menjelang penutupan tahun sudah mencapai 769.

Bagi perusahaan, mencatatkan saham di BEI menjadi alternatif pendanaan yang menarik untuk pengembangan. Tidak hanya perusahaan besar, perusahaan dengan skala aset kecil dan menengah pun mencatatkan sahamnya di BEI dan menjadi perusahaan publik. Setidaknya ada lima keuntungan menjadi perusahaan publik yaitu mendapatkan pendanaan jangka panjang, meningkatkan nilai perusahaan (corporate value), meningkatkan citra perusahaan, menjaga keberlangsungan usaha dan memberikan insentif pajak.

"Setelah go public, perusahaan akan mendapat modal tambahan dari saham yang dijual. Modal dapat digunakan untuk membiayai ekspansi perusahaan, membayar utang, melakukan akuisisi atau diinvestasikan kembali," kata Kepala Kantor Perwakilan BEI Sumatera Utara Muhammad Pintor Nasution dalam siaran persnya, Minggu (26/12/2021).

Go public juga akan meningkatkan nilai ekuitas perusahaan sehingga memiliki struktur permodalan yang optimal. Selain itu, dengan menjadi perusahaan publik yang sahamnya diperdagangkan di bursa, perusahaan akan menjalankan aktivitas operasionalnya secara lebih baik dengan menjalankan praktik Good Corporate Governance (GCG). Dengan menjadi perusahaan publik yang sahamnya diperdagangkan di BEI, setiap saat publik dapat memperoleh valuasi terhadap nilai perusahaan. Setiap peningkatan kinerja operasional dan kinerja keuangan akan mempunyai dampak terhadap harga saham di bursa yang pada akhirnya akan meningkatkan nilai perusahaan secara keseluruhan.

Langkah go public juga mempermudah akses perusahaan untuk membuka akses pendanaan lain seperti penerbitan surat utang, obligasi, sukuk dan instrumen pendanaan lainnya. Investor akan lebih tertarik membeli obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan yang telah dikenal dan memiliki citra baik dalam dunia keuangan. Perusahaan yang terbuka akan terdorong untuk meningkatkan transparansi dengan melakukan keterbukaan informasi karena adanya pemegang saham yang berupa masyarakat umum. Melalui keterbukaan informasi dan adanya perhatian dari media dan komunitas keuangan, perusahaan akan dapat meningkatkan citranya. Oleh karena itu, status perusahaan terbuka (Tbk) juga memungkinkan perusahaan untuk menerbitkan obligasi dengan tingkat bunga/kupon yang lebih kompetitif.

Pintor bilang, manfaat lainnya menjadi perusahaan publik yaitu kalangan perbankan atau institusi keuangan lainnya akan dapat lebih mengenal perusahaan sehingga dapat meningkatkan tingkat kepercayaan pihak perbankan dalam pemberian pinjaman dan memungkinkan pemberian tingkat bunga pinjaman yang lebih kompetitif.

Hal ini terjadi karena perbankan dapat mengetahui kondisi keuangan perusahaan setiap saat melalui berbagai keterbukaan informasi yang diumumkan perusahaan melalui website bursa dan perusahaan sendiri sehingga credit risk perusahaan terbuka relatif lebih kecil dibandingkan credit risk pada perusahaan tertutup atau belum dikenal.

"Dengan demikian, solusi pendanaan untuk pengembangan perusahaan menjadi terbuka lebih lebar dan perusahaan dapat terus bertumbuh," ucapnya.

Selain berbagai manfaat di atas, pemerintah juga memberikan insentif pajak kepada perusahaan yang go public berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan dan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2020 tentang Penurunan Tarif Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak Badan Dalam Negeri yang Berbentuk Perseroan Terbuka. Wajib pajak badan dalam negeri yang berbentuk perseroan terbuka dapat memperoleh penurunan tarif pajak penghasilan (PPh) sebesar 3 persen lebih rendah dari tarif normal PPh wajib pajak badan dalam negeri bila memenuhi persyaratan tertentu.

Bagi pemilik perusahaan terbuka yang sahamnya tercatat di BEI, pemerintah hanya mengenakan tarif pajak final sebesar 0,1 persen dari jumlah bruto nilai transaksi penjualan saham di BEI. Hal ini sangat menarik jika dibandingkan dengan tarif pajak penghasilan atas penjualan saham di luar bursa efek yang dapat mencapai 35 persen untuk wajib pajak dalam negeri perorangan. Hal ini berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1997 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1994 Tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Transaksi Penjualan Saham Di Bursa Efek dan dilengkapi mengenai tata cara pelaksanaannya dengan Keputusan Menteri Keuangan KMK.282/KMK.04/1997 tentang Pelaksanaan Pemungutan Pajak Penghasilan Atasa Penghasilan dari Transaksi Penjualan Saham di Bursa Efek.

"Dengan manfaat-manfaat go public ini, saatnya mendorong perusahaan-perusahaan untuk masuk ke pasar modal dan mempersiapkan sejak awal tahun," kata Pintor.

Menurutnya, bursa senantiasa terbuka bagi seluruh perusahaan dari berbagai industri untuk memanfaatkan pasar modal sebagai katalis pertumbuhan. Bagi perusahaan yang ingin menawarkan saham ke pasar modal dapat menghubungi perusahaan sekuritas yang akan menjadi underwriter atau penjamin emisi efek dan meminta bantuan lembaga penunjang dan profesi penunjang pasar modal. [Me1]

Editor: Me1

RELATED NEWS